
C. Rajagopalachari
Ditambahkan oleh pemilik: Perpusta Official
Pemilik perpustakaan: Perpusta Official
Gabung perpustakaan ini untuk bisa meminjam buku.
Ramayana yang ditulis oleh C. Rajagopalachari merupakan salah satu versi penceritaan kembali epos klasik India yang paling luas dibaca hingga kini. Pertama kali diterbitkan oleh Bharatiya Vidya Bhavan pada tahun 1957, buku ini awalnya ditulis dalam bahasa Tamil sebelum kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Versi Inggrisnya justru jauh lebih dikenal dan dibaca secara global dibandingkan versi aslinya. Hingga saat ini, lebih dari 1,3 juta eksemplar telah terjual, menjadikannya salah satu pintu masuk paling populer ke dalam wiracarita yang menjadi fondasi budaya dan spiritual India ini. C. Rajagopalachari, yang akrab disapa Rajaji, bukanlah sekadar penulis biasa. Ia adalah seorang negarawan terkemuka yang pernah menjabat sebagai Gubernur Benggala Barat, Kepala Negara India, Menteri Dalam Negeri dalam kabinet Jawaharlal Nehru, serta Ketua Menteri Madras. Sebagai seorang Hindu yang taat, ia memandang epos-epos besar India sebagai perwujudan karakter bangsa India dalam segala aspeknya. Dalam pandangannya, menceritakan kembali Ramayana adalah pelayanan terbaik yang bisa ia berikan kepada bangsanya, karena kisah ini bukanlah sekadar fiksi, melainkan mengandung esensi keindiaan yang melampaui zaman modern. Rajaji memposisikan dirinya sebagai figur kebapakan yang mewariskan versi yang dianggap benar dari epos ini kepada warga negara yang bertanggung jawab dari sebuah bangsa yang baru lahir. Kisah dalam buku ini bermula dari kerajaan Kosala di utara Sungai Gangga, dengan ibu kota bernama Ayodhya, yang diperintah oleh Raja Dasarata, seorang raja bijaksana dan berbudi luhur. Meskipun kerajaannya makmur dan rakyatnya hidup bahagia, Dasarata dilanda kegundahan karena belum memiliki putra. Ia pun mengadakan upacara permohonan anak. Pada saat yang sama, di kayangan para dewa sedang membicarakan Rahwana yang menghancurkan dunia, sehingga Dewa Wisnu diutus turun ke bumi sebagai titisan dari anak-anak Raja Dasarata. Para permaisuri Dasarata kemudian hamil setelah meminum payas pemberian para dewa. Permaisuri pertama, Dewi Kausalya, melahirkan Rama. Permaisuri kedua, Dewi Sumitra, melahirkan putra kembar Lesmana dan Satruguna, sementara permaisuri ketiga, Dewi Kaikeyi, melahirkan Bharata. Setelah putra-putranya tumbuh besar, Resi Wiswamitra datang meminta Rama dan Lesmana yang baru berusia enam belas tahun untuk menemaninya melawan raksasa. Meskipun berat melepas kepergian anak-anaknya, Dasarata akhirnya merelakan mereka pergi setelah diyakinkan bahwa putra-putranya adalah anak yang tangguh. Dalam perjalanan di Hutan Dandaka, Rama bertempur melawan Tataka, raksasa perempuan yang telah dilutuk, dan mengakhiri hidupnya. Rombongan kemudian tiba di Kerajaan Wideha, Mithila, yang diperintah oleh Raja Janaka. Di sana diadakan sayembara bahwa siapa pun yang mampu mengangkat, merentangkan, dan melepaskan busur Rudra pemberian Batara Baruna akan menjadi suami Sinta. Rama mengikuti sayembara tersebut dan berhasil memenangkannya, lalu menikah dengan Sinta dan hidup bahagia selama dua belas tahun. Bagian selanjutnya dari kisah ini menceritakan perjalanan Rama, Lesmana, dan Sinta menuju hutan Dandaka. Di asrama Pancawati, Rama dan Sinta hidup damai dan bahagia. Namun, Sinta kemudian diculik oleh Rahwana, raja Lanka, yang memicu perang besar antara pasukan Rama yang bersekutu dengan kera dan beruang melawan pasukan raksasa. Berulang kali panah Rama menerjang badan Rahwana, tetapi tidak satu pun yang mampu menembus baju perang sang raja raksasa, sementara para dewa menyaksikan dengan penuh kekaguman dan ketakjuban. Akhirnya Rahwana pun tumbang. Setelah kematian Rahwana, Rama dan Sinta bersatu kembali dan akhirnya hidup bahagia, dengan Rama dinobatkan menjadi raja Ayodhya menggantikan Bharata. Keistimewaan utama buku ini terletak pada gayanya yang sederhana dan akrab, sehingga menjadikannya bacaan yang mudah dipahami bahkan bagi pembaca muda yang belum familiar dengan epos ini. Rajagopalachari sebagian besar mengikuti Ramayana karya Valmiki, namun di beberapa bagian ia juga menyertakan rujukan pada Ramayana karya Kamban dari Tamil sebagai pembanding. Meski demikian, beberapa pembaca merasa bahwa bahasa yang digunakan dalam beberapa terjemahan justru cukup rumit, dan ada pula yang menilai bahwa beberapa bab terasa terburu-buru sehingga kurang penjelasan mendetail. Terlepas dari itu, buku ini tetap menjadi salah satu versi penceritaan ulang Ramayana yang paling diandalkan dan direkomendasikan, terutama bagi mereka yang ingin mengenal warisan budaya India yang agung ini. Bagi banyak orang di India, Ramayana bukanlah sekadar dongeng belaka, melainkan memiliki makna yang lebih dalam daripada peristiwa-peristiwa dalam kehidupan mereka sendiri, sebagaimana tumbuhan tumbuh di bawah sinar matahari, demikian pula manusia tumbuh dalam kekuatan mental dan budaya dengan menyerap inspirasi yang bersinar dari Ramayana.
Hanya pembaca yang sudah mengembalikan buku ini yang dapat memberi ulasan terverifikasi.
Pinjam dan kembalikan buku ini untuk dapat memberikan ulasan terverifikasi.
Belum ada ulasan
Ulasan terverifikasi akan muncul setelah pembaca mengembalikan buku.
Bergabung sebagai anggota perpustakaan untuk ikut berdiskusi.
Belum ada diskusi
Jadilah yang pertama memulai percakapan tentang buku ini.
Masuk untuk melihat detail buku lengkap
Buat akun atau masuk untuk membaca deskripsi, ulasan, dan diskusi buku ini.